Cerita Anak

Buah Kejujuran

Pada zaman dahulu ada seorang bujang yang sangat jujur. Bujang itu bernama Sanji. Ia sebatang kara. Ia anak yang rajin. Pagi ini dia bergegas berangkat bekerja ke tempat saudagar kaya di desa Manggar. “Hari ini aku harus memanen buah lebih banyak.” katanya dalam hati. Sampailah ia di tempat sudagar itu. “Selamat pagi, Tuan!” katanya kepada saudagar. “Selamat pagi, Bujang! Hari ini kamu akan memanen apel bersama lima orang pekerja lain.” kata saudagar itu. “Baiklah tuanku!” jawabnya.
Berangkatlah ia menuju kebun di seberang sungai. Kebun saudagar itu sangat luas. Ada banyak tanaman buah, antara lain; apel, jeruk, durian, dan mangga. Pagi ini ia akan memanen buah apel bersama lima orang temannya, Bocel, Manggut, Sartam, Leman, dan Sarman. Sanji memanen buah apel dan mendapatkan dua karung penuh apel. Saat hendak membawa karung-karung apel ke perahu, ia melihat Manggut membawa sekarung apel untuk dirinya. Melihat itu berkatalah ia, “Apa yang kau lakukan? Itu buah apel milik tuan!” Manggut merasa kesal ketika perbuatannya ketahuan. “Kau tidak usah ikut campur!” bentaknya. Lalu pergilah Manggut membawa sekarung penuh buah apel curiannya.
Keesokan harinya, Sanji pergi lagi ke rumah saudagar kaya. Ia hendak melaporkan perbuatan Manggut. Ketika bertemu saudagar itu berkatalah ia, “Tuan, saya hendak berbicara!” Saudagar itu hanya tersenyum sambil berkata, “Ada apa Bujang? Mengapa pagi sekali kau datang kemari?” Sambil menghela nafas, Sanji menjawab, “Maaf Tuan, saya terlalu pagi datang ke sini. Saya hanya ingin melaporkan perbuatan Manggut. Ia mengambil sekarung apel milik tuan.”Saudagar itu melihat kesungguhan hati bujangnya. Kemudian ia menyuruh pengawal untuk menggeledah rumah Manggut. Para pengawal menemukan berkarung-karung buah-buahan. Akhirnya saudagar itu menemukan siapa yang mengambil buah-buah di kebunnya. Dia tidak lagi mempekerjakan bujang yang tidak jujur itu.
Hari berikutnya, saudagar itu memanggil Sanji ke rumah. Ia mengucapkan terima kasih kepada bujang yang jujur itu. “Kau sangat baik dan jujur Bujang! Kerjamu juga bagus.” kata saudagar itu. “Terima kasih Tuan, aku hanya melakukan yang menurutku baik.” jawabnya. “Karena kebaikan dan kejujuranmu, aku akan memberi satu hektar kebunku.” kata saudagar itu. Sanji merasa kaget dan gembira. Ia tidak menyangka kalau tuannya akan memberi hadiah. Berkat kejujurannya, ia mendapat buah yang manis.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s